Feeds:
Posts
Comments

Seminggu yang lalu adalah hari terakhir dari masa kunjungan seminggu ku di Merauke. Teman-teman di Merauke mengatakan bahwa harga hasil laut sangat murah di Merauke dan daging rusa melimpah di sana. Dengan rasa penasaran itu, aku dan beberapa teman pergi pagi-pagi sekali ke pasar tradisional. Di sana bertaburan udang, cumi-cumi, ikan, dan semuanya dalam keadaan segar. Jika biasanya di Jakarta kami ga behave kalau melihat baju-baju dengan label “DISKON”, di pasar ini pun kami menjadi ga behave ketika dengar bahwa udang cuma 15 ribu/kilo, cumi cuma 50 ribu/kilo, dan ikan kakap hanya 15 ribu/kilo. Selembar demi selembar uang di dompet pun dikeluarkan. Soalnya harga di Jayapura sangat jauh berbeda, misalnya udang yang 15 ribu/kilo di Merauke bisa sampe 40 ribu/kilo di Jayapura. Pas lagi milihin cumi-cumi yang mau dibeli, tiba-tiba ada yang nyolek tanganku. Aku kaget dan langsung noleh ke belakang, ternyata ada seorang pria dengan rambut bergaya rasta menenteng replika senapan tentara yang pura-pura ga terjadi apa-apa dan berjalan melewati kami. Pas aku dengan spontan menggerutu tentang orang itu, sang penjual hanya berkata begini sambil cengengesan, “ga apa-apa mbak. Itu masih mending, biasanya ada yang dicium sama dia. Orang gila.” Yaah, terpaksa diikhlasin deh. Trus, kita melanjutkan perburuan di pasar itu. Setelah puas mendapatkan apa yang dicari (ditambah hal-hal yang sebenernya ga dicari, tapi dibeli karena murah banget), kami membeli cool box untuk memuat semuanya itu di pesawat nanti. Kami sedang dalam perjalanan keluar dari pasar ketika dari arah berlawanan, sang orang gila berjalan menuju ke arah kami. Seorang teman langsung pura-pura singgah di salah satu pedagang dan bertanya tentang harga. Aku pun ikut ngobrol dengan sang pedagang tentang perbedaan cumi-cumi batu dan cumi-cumi laut (???). Beginilah formasi kami ketika itu. Seorang teman di sebelah kiriku, dan dua orang teman mengapitku di sebelah kananku. Dua orang yang di sebelah kananku ini yang paling dekat dengan jalan setapak pasar. Tiba-tiba sang orang gila menyela di antara aku dan temanku yang di sebelah kananku dan menarik sendalku hingga terlepas lalu berkata, “panggil saja polisi!”. Setelah itu, dia pergi dengan santainya. Terlalu shock untuk bereaksi, kami pun berjalan meninggalkan tempat itu. Dalam perjalanan kami membicarakan kejadian itu. “Gila, gw dosa apa ama tuh orang? Dari tadi gw mulu yang digangguin,” keluh gw. “Itulah Mei, orang gila aja tau kalau lu cantik,” timpal seorang teman sambil tertawa. Jawaban yang aneh.

Harga yang sangat murah, hasil laut yang segar, daging rusa yang dijual bebas, serta orang gila rasta merupakan komposisi yang membuat belanja di pasar tradisional Merauke suatu pengalaman yang istimewa.

Bukan Hari Biasa

Hari ini ada yang berbeda. Jantungku memompa darah lebih cepat daripada biasanya. Jalan rawa yang tiap hari kulewati terlihat tak kalah indah dengan Danau Toba. Rumah-rumah kayu transmigrasi yang berbaris di dekat rumahku tampak hampir sekokoh bangunan arsitektur Belanda. Anak-anak yang kadang menyebalkan dan membuatku naik darah, hari ini kuhadapi dengan senyum. Ternyata para pencipta lagu dan pengarang puisi cinta itu ada benarnya, jatuh cinta bisa membuat orang setengah gila. Tapi, harus kuakui bahwa: Aku menikmatinya!!!

Saturday means two things to me:

  1. Out of work
  2. Cleaning activities

The second one is what I am going to share here. Last Saturday (like other Saturdays) was begun by sweeping the floor, bringing out the trash bag to the public trash area, making up my bedroom, and taking a bath. Then I went to Bu Sukir’s house. Bu Sukir is ibu Jawa who cook delicious foods everyday for us. She has a washing machine that always helps me cleaning up my dirty clothes. While waiting the machine doing its job, I had a talk with Bu Sukir. Our conversation was begun by talking about her children, her catering business, and the weather situation. I told her that there was a political party meeting in one of our neighbor’s home the night before. Then I asked her about the campaign situation in our village and whether she is joining a party. She answered me that she did not take part in any political party in order to avoid sins. She said that some of the “Legislative Wannabe” has started their campaign by distributing gift packages to the society. Bu Sukir herself has received some packages from different parties. She continued her story with full of passion. She said that people in this village will not elect the “Legislative Wannabe” if they are not given money by the candidate. I was shocked and showed my anger to Bu Sukir.

Me : Why are they thinking like that, Bu?

Bu Sukir: The candidates themselves taught us to behave like that

Me : What do you mean, Bu?

Bu Sukir: Every candidate always gives promise to the society. When she (he) has been elected, she (he) will never remember the society. She (he) will enrich her (his) own bank account. She (he) will neither remember the poor nor the development of the village. We’ve seen many of them stealing what should be belong to the society.

Me : It got nothing to do with your statement that the society will only elect if they are given money by the candidate, Bu.

Bu Sukir: Oh yes it got something to do with it. Since she (he) will not help us cope our poorness when she (he) has been elected, we take everything from her (him) when she (he) is not elected yet, including their money.

Me : But you can’t do that. It’s our next 5 years time is being gambled.

Bu Sukir : There is no honest people anymore. When they got their chair in the legislative, they will not remember us. Better get a little from them than not at all.

I sat in a chair in the kitchen of a mother in the east end of Indonesia, tried to understand what I had just heard. This nation had just celebrated its 63rd independence day last August. Many people have died to get the freedom for this nation. Many activists have gone and never been found till now to promote the democracy. But here I found that we had such a long way to catch.

Nyanyian Hutan

Kemaren aku melakukan perjalanan yang cukup melelahkan but it was worth to do. Kantorku bekerja sama dengan Surya Institute (lembaga yang didirikan oleh the genius physician, Yohanes Surya) untuk mendatangkan guru-guru bantu ke tanah Papua ini. Guru-guru bantu tersebut akan mendampingi beberapa guru SD di sini bagaimana mengajarkan matematika dengan menyenangkan. Seandainya aja program ini diberikan pada guru-guruku di SD dulu mungkin aku gak akan mendapatkan C untuk kalkulusku di kuliah (salah satu teori pembenaranku, hehe).

Ada 5 orang guru bantu yang ditempatkan di Kabupatenku dan ada 5 lagi di Wamena. Di sini mereka akan disebar ke tiga kecamatan. Sebelum menentukan siapa ditempatkan di kecamatan mana, pak manajerku mengajak mereka berkeliling ke 3 kecamatan tersebut. Kemaren kami menjalani 2 kecamatan pertama, Arso dan Waris. Aku sendiri sudah 2 bulan di sini tapi belum pernah menginjakkan kaki di Waris. Perjalanan dari Arso ke Waris seperti perjalanan dengan mesin waktu. Perlahan-lahan kami meninggalkan daerah dengan bangunan terbuat dari batu dan hiruk pikuk menuju rumah-rumah panggung yang terbuat dari kayu dan tidak terjangkau aliran listrik PLN. Untuk sampai ke perkampungan itu kami melintasi jalan (yang tidak bisa dikatakan baik)yang membelah hutan. Pohon-pohon rindang di kiri dan kanan. Jurang-jurang terjal pun bukan hal yang aneh lagi untuk dilihat. Tapi pemandangannya luar biasa. Pelukis mana pun gak akan bisa menyajikan gradasi warna hijau sebanyak yang kusaksikan di sana. Dan perjalanan melintasi hutan itu pun bukan hanya hiburan visual, tapi juga audio. Suara-suara seperti siulan menemani kami melintasi hutan. Pak supir yang aku tanyai tentang sumber suara itu mengatakan bahwa di hutan tersebut pohon-pohon di hutan itu berkonformasi sedemikian rupa sehingga membentuk rongga. Rongga ini ketika dilewati oleh angin akan menghasilkan bunyi siulan merdu itu. Belum selesai sampai di situ, kami pun disambut burung-burung yang berkicauan dan kupu-kupu beraneka warna. It was like entering a big natural symphony theater. Kerinduan akan kampung halaman pun terobati sudah.

Rinduku padamu

Sendiri di sini membayangkanmu. Teringat hari-hari yang kita lalui bersama. Tak tahu bagaimana semuanya berawal. Ketika kutersadar, kepompong di perutku telah berubah menjadi kupu-kupu yang menggelitik. Banyak hal yang bisa kulakukan hanya jika ada kau di dekatku. Kau mengajarkanku banyak hal dan mampu menerima segala hal tentangku. Melakukan kekonyolan-kekonyolan bersama pun tidak terlepas dari hari-hari kebersamaan kita. Hidup telah mengantarkanmu padaku, namun kini membawamu pergi. Aku sempat memprotes sang Pencipta karena mempertemukanku denganmu. Tapi aku menyadari bahwa aku tak akan menjadi aku yang sekarang jika tak bertemu denganmu. Persilangan jalan hidup kita telah kita lalui. Sekarang aku di jalanku dan kau di jalanmu.

Sampai kita bertemu lagi suatu saat nanti.

Terbang ke sana

Malam ini aku akan meninggalkan Jakarta lagi setelah sekitar 2 bulan jadi penumpang gelap. Gelap dalam arti tidak terdaftar di pak RT, bukan karena kulitku yang gelap.

Tujuh jam berada di pesawat tentunya akan melelahkan. Tapi gak apalah, itung-itung simulasi perjalanan ke Eropa. Adrenalinku terpacu dan jantung berdebar lebih kencang membayangkan segala kemungkinan yang menantiku di sana. Dua hari terakhir ini kepanikan sempat melanda. Aku takut aku tak siap dengan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan aku hadapi di sana. Aku bahkan tergoda untuk meninggalkan ini semua dan kembali ke hidupku yang lama. Ah… betapa lemahnya. Kemudian beberapa hal terjadi. Beberapa hal yang membuatku mantap bahwa aku harus pergi ke sana. Sang empunya alam semesta telah memberiku hidup untuk dijalani dengan sukacita, kenapa aku harus menjalaninya dengan penuh kekuatiran?

Papua menungguku, kawan. Saatnya berangkat.

Culture Shock

Petualangan selama sebulan di Sumba Timur telah berakhir. Akhirnya kaki ini menginjak ibukota lagi, hidung ini menghirup udara yang penuh polusi lagi, mata ini kembali melihat kemacetan, telinga ini mendengar hiruk pikuk keramaian.

Masa-masa di Sumba Timur adalah satu bagian dalam sejarah hidupku yang memberi banyak pelajaran dan tak akan pernah kulupa. Ketika berada di sana ada kerinduan untuk kembali merasakan pergerakan manusia yang dinamis di kota, ingin bersentuhan dengan teknologi lagi, ingin mengetahui apa saja yang sudah terjadi di luar sana. Kini aku kembali ke tempat dimana semua hal itu bisa kualami. Namun, ada yang mengganjal dalam hatiku. Setelah berminggu-minggu mampu hidup tanpa sinyal, listrik, bahkan fasilitas MCK, kini aku harus beradaptasi lagi dengan suatu bentuk peradaban maju. Ada kerinduan terbangun di atas bale-bale bambu, disambut udara pagi yang sejuk menggelitik kulit, mendengar derap langkah sapi-sapi  ketika digiring ke padang rumput, melihat anak-anak kurus akibat kurang gizi yang berlari-lari menuju kali, mendengar suara babi-babi yang bersorak minta jatah makan pagi mereka, dan memberi salam pada anak-anak yang dengan gagahnya menunggang kuda mereka untuk dibawa ke padang rumput nan gersang. Benar-benar suatu paradoks. Dan aku terjebak di antaranya. Bagaimana aku bisa menikmati setiap bentuk kreasi makanan baru di kota ketika aku tahu bagaimana masyarakat di Sumba masih harus menggali ubi di hutan ketika musim kelaparan tiba? Bagaimana aku bisa menikmati secangkir kopi di warung-warung kopi yang sedang menjamur di ibukota ketika anak-anak di Sumba bahkan meminum air kali yang tidak dimasak? Bagaimana aku bisa menikmati akses internet tak terbatas ketika anak-anak di Sumba bahkan tidak tahu ada pulau selain pulau Sumba di dunia ini? Bagaimana aku bisa menikmati buku-buku kegemaranku ketika murid-murid kelas VI SD di Sumba masih belum bisa membaca? Banyak pertanyaan dalam pikiranku dan kegalauan dalam hatiku.

Aku pun bertanya, dimana sebenarnya aku ingin berada?

Impossible Triangle

Bagi Andrea Hirata, Weh, Arai, Mak Birah adalah impossible triangle-nya. Selama perjalanan di Sumba, aku pun menemukan impossible triangle-ku.

Penempatanku di salah satu dusun di pedalaman Sumba ternyata bukan suatu kebetulan. Ketika perjalanan ke dusun tempatku tinggal selama 3 minggu, aku berbincang dengan sang pengambil keputusan. Dia bercerita alasan mengapa dia menempatkanku di dusun tersebut. Ketika melihat CV ku, dia kaget karena ada seorang alumni kampusku yang mau bekerja di bidang kemanusiaan. Memang itu bukanlah common sense di kalanganku. Beberapa orang teman bahkan meragukan kewarasanku. Oleh karena anomali itu, dia sengaja menempatkanku di dusun yang sering dia kunjungi agar bisa berdiskusi denganku mengenai  apa yang melatarbelakangi jalan hidup yang kupilih.

Seorang manusia dengan latar belakang IPA, dari PTN favorit, tidak akan mau turun ke pedalaman-pedalaman NTT untuk melayani kalangan marginal. Demikianlah hipotesis yang dia percayai seumur hidupnya. Pada masa mudanya dulu dia bercita-cita untuk menjadi seorang insinyur dengan cap gajah duduk di ijasahnya. Hidup tidak membawanya ke kampus itu. Semenjak itu dia memiliki sensitivitas tinggi terhadap kampus itu dan setiap lulusannya. Pada masa dia mencari pekerjaan, tak jarang jalan hidupnya bersilangan dengan jalan hidup para lulusan kampus itu. Setiap kali hal itu terjadi, kepercayaan dirinya langsung terjun bebas ke jurang tak berdasar. Dalam kepala dan hatinya, sosok lulusan kampus itu adalah sosok yang besar sekali, dan pihak corporate mana pun pasti akan lebih memilih mereka daripada dirinya. Dengan pemikiran seperti itu, dia membentuk gambaran para lulusan kampus itu dalam otaknya sebagai intelek muda yang arogan dan money oriented.

Pada suatu kesempatan mencari kerja, dia berhasil mengalahkan kandidat yang berasal dari kampus itu. Rasa percaya dirinya pun meningkat. Dia mulai berpikir bahwa ternyata dia pun layak diperhitungkan. Namun, cara dia memandang para lulusan itu tidak berubah. Hingga dia bertemu denganku. Aku menceritakan perjalanan hidupku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk berjalan di bidang kemanusiaan. Segala hipotesisnya hancur berantakan. Ternyata ada anak manusia dengan cap gajah duduk di ijasahnya yang mau turun ke pedalaman-pedalaman Indonesia untuk melayani. Kenyataan ini tentu saja bukan terjadi karena kekuatanku. Aku bahagia  karena Tuhan dengan cara-Nya menyampaikan pesan kepada orang itu. Aku katakan padanya: tak peduli lulusan mana seseorang itu, ketika Tuhan mau pakai dia untuk melayani ke tempat-tempat yang di luar dugaan, orang itu tidak akan bisa lari daripada-Nya. Sejak itu dia berdamai dengan dirinya sendiri.

Dua anak manusia yang terhubung oleh benang merah kampus gajah bertemu di pulau Sumba dengan membawa ceritanya masing-masing. Aku, orang itu, dan pulau Sumba adalah impossible triangle-ku. Tuhan tunjukkan betapa kreatifnya Dia. Kejadian ini memberikan keyakinan baru bagiku bahwa memang tidak ada yang mustahil bagi-Nya dan setiap hal di Bumi ini terjadi bukan karena kebetulan.

Memperkaya Hidup

Pergi ke suatu daerah yang hanya kukenal lewat peta bersama orang-orang yang baru kukenal tentu saja menimbulkan kekuatiran tersendiri padaku. Aku tidak tau apakah akan mampu bertahan hidup di sana atau tidak, mampu beradaptasi dengan teman-teman baruku atau tidak, dan yang terpenting menemukan apa yang kucari atau tidak.

Kekuatiran-kekuatiran itu lenyap satu per satu selama proses di sana. Aku menemukan diriku berada di antara orang-orang yang luar biasa. Banyak di antara mereka yang sudah lama terjun di bidang kemanusiaan dan benar-benar tidak tertarik untuk bekerja di profit organization. Bahkan beberapa di antara mereka melepaskan karir yang lebih menjanjikan untuk bergabung dengan organisasi kemanusiaan ini. Berbagai alasan mereka kemukakan. Aku seperti menemukan kelompokku.

Aku melihat banyak sudut pandang dalam melihat suatu masalah. Aku berasal dari latar belakang ilmu pasti. Selalu ada acuan yang pasti dan setiap permasalahan hanya punya satu solusi yang jika diuji di belahan dunia manapun pasti hasilnya sama. Di sini aku bertemu dengan teman-teman dari ilmu sosial dan yang kuhadapi bukanlah alam, melainkan manusia. Tidak ada yang pasti, semuanya serba relatif. Kaget sudah pasti. Namun kemudian aku mencoba menerimanya sebagai wawasan hidup yang baru. Aku belajar menerima perbedaan-perbedaan.

Aku bertemu dengan beraneka jenis orang. Ada yang selalu memandang positif kehidupan, ada yang mengintegrasikan imannya dengan perbuatannya sehari-hari, ada yang ingin memberikan hidupnya untuk pelayanan, ada yang tidak setia kepada pasangannya, ada yang terlihat kekanak-kanakan tetapi sebenarnya memiliki pemikiran tentang hidup yang dalam, dan ada yang terlihat kuat namun ternyata sangat rapuh. Banyak hasil permenungan pribadi yang mereka bagikan pada setiap kesempatan diskusi. Semuanya membuatku berpikir ulang mengenai apa yang telah kulakukan sepanjang usia hidupku dan apa yang akan kulakukan sepanjang sisa usiaku. Aku mulai mempertanyakan apakah selama ini aku telah menyenangkan Tuhan.

Sebulan bersama mereka memberikan banyak hal bagiku. Pergi ke tempat yang tidak pernah kumimpikan sama sekali dan bertemu dengan orang-orang yang luar biasa benar-benar suatu kesempatan indah yang Tuhan berikan padaku. Suatu kesempatan yang memperkaya hidupku.

Back to town

Seminggu di pedalaman sumba  baru saja berlalu

Seminggu tanpa sentuhan dunia luar

Seminggu tanpa listrik dan sinyal

Benar-benar ujian yang berat

Melihat rumah beton dan lampu menyala di ibukota kabupaten rasanya kayak ngeliat kota metropolitan

Besok kembali lagi ke sana

Perjalanan akan dimulai lagi

Entah apa lagi yang akan aku temui di sana

Entah keputusan ini benar atau tidak

Aku percayakan master plan hidupku padaNya

Older Posts »