Jika kebanyakan orang berpikir berpikir bahwa SDM di tanah Papua tidak sepotensial SDM di pulau-pulau lainnya, aku akan menawarkan pandangan yang lain. Tanah Papua ini berisikan jenius-jenius yang luar biasa dan menunggu kesempatan untuk ditemukan. Mereka sama halnya dengan emas Papua, indah namun tersembunyi. Notes ini tentang 3 jenius Papua yang kujumpai. Nama-nama yang digunakan bukan nama sebenarnya.
Jenius pertama yang kutemui adalah seorang anak laki-laki di suatu desa yang tidak terjangkau sinyal telepon selular. Nama anak laki-laki itu adalah Michael. Kami bertemu di perpustakaan kampung ketika aku berkunjung ke kampungnya. Perpustakaan itu dibangun untuk memberikan akses informasi kepada anak-anak. Kami melengkapi perpustakaan itu dengan buku-buku yang menarik bagi anak untuk meningkatkan minat membaca. Jika pada umumnya anak Papua akan menunduk malu sambil garuk-garuk kepala ketika kita bertanya siapa namanya, tidak demikian halnya dengan Michael.
“Ko nama siapa?” tanyaku
“Michael”
“Kelas berapakah?”
“Empat”
Lalu dia melanjutkan membaca buku yang dipegangnya. Sejak dulu aku selalu tertarik pada orang-orang cerdas, mungkin supaya ketularan cerdas. Saat itu aku mencurigai Michael adalah anak yang cerdas. Karena penasaran, aku mengambil satu buku tentang logika matematika bagi anak SD. Aku menantangnya untuk memecahkan soal-soal di buku itu.
“Seekor jerapah bernama Jappy akan dipindahkan ke kebun binatang baru. Perjalanan yang harus ditempuh adalah 120 km. Truk yang membawa Jappy melaju dengan kecepatan 40 km/ jam. Truk harus berhenti setiap 40 km selama 15 menit untuk memberi makan Jappy. Berapa kali kah truk berhenti sebelum sampai di kebun binatang yang baru dan berapa jam waktu yang ditempuh untuk sampai di kebun binatang yang baru?
Dia terdiam sebentar dan mengerutkan kening. Aku merasa memilih buku yang salah. Sebelumnya setiap kali aku bertemu anak kelas 4 SD, perkalian bilangan dua angka dengan bilangan dua angka pun mereka membutuhkan waktu yang cukup lama, apalagi logika seperti ini. Aku pun berusaha mencari buku lain yang kira-kira dapat diselesaikan Michael.
“Berhenti 2 kali,” seru Michael
Aku berbalik ke arahnya, anak itu menunjukkan ekspresi keyakinan.
“Berapa jam yang dibutuhkan?”
“Tiga setengah jam”
Jika aku merasa sangat bahagia ketika pertama kali terbang dengan pesawat, atau ketika aku berpapasan dengan seorang pemain basket idola di SMA dulu, atau ketika dapat nilai C dari mata kuliah Fisika Modern (sungguh, dapat C itu suatu mukjizat), kebahagiaanku saat mendengar jawaban Michael melebihi peristiwa-peristiwa sebelumnya, Kawan. Sejak saat itu aku yakin bahwa aku akan bertemu dengan jenius-jenius Papua lainnya.
Jenius kedua yang kutemui adalah anak bernama Petrus. Selain karena cita-citanya yang mulia untuk menjadi astronot dan mendirikan pusat-pusat penelitian di Indonesia (cita-cita yang sangat langka keluar dari mulut seorang anak), kehausannya akan hal-hal baru menjadikannya masuk dalam daftar-jenius-Papua-ku. Saat ini dia kelas 3 SMU dan masuk dalam kelas Proteksi. Kelas Proteksi adalah kelas yang dipersiapkan dengan dana otonomi khusus bagi anak-anak asli Papua (berdarah Papua) yang berprestasi. Untuk bisa masuk ke kelas tersebut, setiap anak harus melewati proses seleksi terlebih dahulu. Mereka belajar lebih lama dari kelas-kelas lainnya (sampai jam 4 sore), dan disediakan makan siang setiap harinya. Pada suatu waktu seorang temanku, Nova, mengajak Petrus untuk mengikuti lomba menulis remaja. Dia adalah tipikal anak yang tidak banyak bicara tapi dalam hati menyimpan ketertarikan. Awalnya kami sempat ragu dia mau menulis atau tidak. Kami meminjamkannya sebuah laptop (keluaran beberapa tahun lalu dan berukuran 15”) karena dia tidak punya komputer di rumah. Ketika tulisannya sudah selesai, dia datang ke kantor kami, memikul laptop nan berat itu dengan berjalan kaki kurang lebih 6 km dari rumahnya karena tidak punya kendaraan. Ya, tepat seperti itulah keadaannya. Segala kepenatanku pada hari itu pun tergantikan sukacita ketika pembelajar sejati itu berdiri di hadapanku dan menyerahkan laptop beserta hasil tulisannya. Singkat cerita, Petrus tidak memenangkan lomba menulis itu. Tapi dia tetap rajin datang ke kantor kami untuk setiap kegiatan anak yang kami selenggarakan, meskipun kadang-kadang harus berjalan kaki sejauh 12 km pulang pergi. Bahkan teman-temannya yang tinggal di dekat lokasi kantor kami pun tidak serajin dia. Minatnya pada teknologi kami fasilitasi dengan memberikannya tanggung jawab untuk mengelola blog yang berisi kegiatan anak-anak Keerom. Dia sedang mempersiapkan diri untuk kelulusan SMA. Aku memberikan informasi kepadanya tentang kampus-kampus ternama di Pulau Jawa (terutama kampus Ganesha, hehe) dan menantangnya untuk bisa masuk ke sana. Aku punya mimpi bahwa suatu hari nanti dia akan mengenakan toga keluar dari SABUGA. Motivasi dan informasilah yang sangat dibutuhkan oleh anak-anak ini untuk bisa mengejar perkembangan teman-temannya di pulau lain yang lebih menikmati pembangunan dan lebih mudah mengakses informasi.
Anak terakhir dalam daftarku (sampai saat ini) adalah seorang anak di suatu distrik yang tak mendapatkan sinyal HP. Orang-orang di sana hanya bisa menikmati listrik jika punya cukup uang untuk membeli generator. Jenius yang aku maksudkan ini bernama Frans. Dia kelas VI SD. Perjumpaan kami adalah ketika aku bermalam di kampung itu karena ada kegiatan. Aku dan rombongan menginap di salah satu ruangan di sekolahnya. Frans tinggal bersama seorang pak guru yang berasal dari NTT. Rumah pak guru itu ada di lingkungan sekolah, jadi kami menumpang masak di rumah beliau. Frans kebagian tugas mencuci piring dan membersihkan sayur. Saat aku membantunya membersihkan sayur, iseng-iseng aku bertanya soal-soal hitungan kepadanya. Mulai dari penjumlahan sederhana sampai perkalian sedikit rumit. Anak itu mampu menyelesaikannya sambil membersihkan sayur tanpa coret-coret di kertas. Dia hanya diam sejenak lalu menjawab. Sungguh mengagumkan anak itu. Dan yang paling menarik darinya adalah senyumnya dan keramahannya. Jenius ke-3 ku ini bercita-cita menjadi Pastor jika sudah besar nanti.
Aku percaya bahwa aku masih akan bertemu dengan banyak jenius lainnya di Papua ini. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah orang-orang di sekitar anak-anak itu menyadari bakat anak-anak itu dan berusaha mengembangkannya atau tidak.